Mengapa Saya Suka Mengajar?

Sudah sekitar 12 tahun saya mengajar bahasa Belanda. Awalnya sih tidak sengaja ikut training setelah lulus kuliah. Sistemnya gugur, jadi dulu berpikir ikut sajalah sampai gugur. Seleksi alam, apalagi dobel sama kerjaan lain.

Mereka yang kenal saya dari kecil pasti tidak menyangka kalau sekarang saya bisa berdiri di depan kelas sampai 5 jam, banyak omong, dan bahkan melucu. Yah… kalau yang terakhir ini suami saya juga tidak percaya. Seorang dosen yang pernah mengajar saya dulu juga sempat menyampaikan hal ini. Maklum, saya ini cenderung diam, jarang ngomong.

Jangankan mereka, saya sendiri juga tidak mengira, kok. Apalagi selalu malas buka mulut karena tidak bisa melafalkan huruf “R” dengan sempurna, alias cadel. Padahal kalau diingat-ingat, saya sering main pura-pura jadi guru saat kecil dulu. Namun tampaknya cita-cita itu menguap sampai tiba-tiba “terjebak” dalam pelatihan mengajar.

Salah satu titik balik adalah saat saya ditanya apa sih yang menjadi kendala saat akan mengajar. Saya mengungkapkan masalah cadel itu dan diminta melakukan terapi wicara. Terapis yang menangani saya berkali-kali mengatakan kalau saya tidak cadel, hanya unik saja cara mengucapkan huruf “R”, malah cocok untuk berbicara bahasa Belanda.

Lama-kelamaan, seiring dengan bertambahnya jam terbang, saya jadi makin percaya diri dan makin suka mengajar. Melalui pekerjaan ini saya jadi bisa bertemu banyak orang, belajar banyak dari mereka, dan yang pasti harus terus belajar. 

Dua belas tahun lalu saya mendapatkan kelas pertama untuk dipegang sendiri. Di kelas itu ada seorang ibu pemilik yayasan pendidikan, awalnya membuat nyali saya agak ciut, tetapi beliau sangat sabar dan mendukung saya di kelas. Ada murid saya juga yang menyarankan agar saya lebih berani memakai baju warna-warna ceria, tidak hanya warna-warna gelap atau pastel. Setiap satu level berakhir saya akan bertemu murid-murid baru. Belajar hal-hal baru dari mereka dan tak terhitung berapa kali terinspirasi. Semangat belajar beberapa orang pensiunan yang mengasah otak dengan belajar bahasa, ada juga sekeluarga yang belajar bahasa bersama-sama, belum lagi pramugari yang baru mendarat pukul sebelas siang lalu sudah muncul di kelas sekitar tiga jam kemudian. Belum lagi mereka yang harus pindah kota sementara untuk belajar bahasa. Ada juga direktur perusahaan yang sibuk, pejabat kementrian yang sering keluar kota, atau pengusaha tambang yang superaktif. Tak jarang juga sih ada murid-murid yang tingkah lakunya ajaib. Bagi saya, itulah warna-warni kelas, makin beragam artinya makin seru, yang jelas, mereka semua berkumpul dengan tujuan yang sama: belajar. Jika semua seragam malah cenderung membosankan dan kurang tantangannya.

Hanya karena saya berdiri di depan kelas, itu bukan berarti saya jadi yang paling tahu, saya hanya kebetulan tahu lebih dulu. Setiap kali ada saja pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul, hal-hal baru yang bisa saya pelajari, atau masukan-masukan yang saya dapatkan. Saya hanya berharap, semoga apa pun yang pernah saya ajarkan bisa berguna untuk di kemudian hari.

Beberapa foto saya dan murid-murid:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s