Hari Keempat: Sangiran

Saya sebenarnya lupa bagaimana bisa teringat Sangiran saat menyusun rute road trip kami. Awalnya tidak sengaja, lalu melihat beberapa review yang ada dan memutuskan untuk mengunjungi museum manusia purba di Sangiran ini. Tujuannya sih tidak muluk-muluk, hanya agar nanti pas Al mendapatkan pelajaran tentang sejarah ini, setidaknya ia ingat pernah berkunjung ke Sangiran. Lagi pula, pasti ia senang melihat kerangka-kerangka hewan prasejarah dan sejak awal berharap bisa melihat kerangka dinosaurus.

Saya memperkirakan paling setengah hari cukuplah untuk ke Sangiran, lalu kami kembali ke Solo dan berjalan-jalan di sana. Ternyata salah, karena museumnya bagus dan sangat jauh melampaui bayangan kami sebelumnya. Memang saat browsing saya sempat membaca kalau museumnya luas, ada beberapa museum dan klaster, tetapi belum mendapatkan informasi yang jelas dan lengkap tentang museum ini.

Sebenarnya saya janjian untuk ketemu dengan Cindy dan anak-anak, agar kunjungan ke museum jadi lebih seru. Sehari sebelumnya Cindy sudah memperingatkan kalau sedang ada pengecoran jalan di jalur Solo-Sragen, sehingga akan terjebak buka-tutup jalan. Kami berjanji untuk bertemu sekitar pukul 11 di Sangiran. Perjalanan saya cukup lancar, sempat terhambat buka-tutup jalan, tetapi sebelum pukul 11 sudah sampai di Sangiran. Ternyata saat itu Cindy masih terjebak di penutupan jalan, sehingga saya memutuskan untuk masuk duluan sambil menunggu mereka. Singkat cerita, sinyal yang mati nyala di daerah Sangiran ini membuat kami seperti berkejaran di antara pegunungan dan hutan serta gagal bertemu.

20160616_105827
Setibanya di Museum Manusia Purba Sangiran, kami langsung disambut poster ini, wah ternyata museumnya banyak ya…

Untuk masuk museum ini kami hanya membayar sekitar Rp5.000,- per orang ditambah biaya parkir mobil. Begitu masuk kami langsung kagum dengan situasi museum yang bersih, terawat, sangat nyaman, dan dilengkapi dengan layar sentuh yang rata-rata masih berfungsi dengan baik.

20160616_115922

20160616_120323

Ada tiga ruang pamer pada museum ini:

  1. Kekayaan Sangiran
  2. Langkah-langkah kemanusiaan
  3. Masa keemasan Homo Erectus – 500.000 tahun yang lalu
20160616_111127
Informasi disajikan pada layar sentuh dan interaktif
20160616_111950
Bagian belakangnya itu bukan lukisan, melainkan diorama tiga dimensi yang menggambarkan kehidupan manusia purba pada masanya
20160616_111253
Temuan terbaru di situs Sangiran
20160616_113148
Patung Eugene Dubois
20160616_113529
Pada bagian ini kita boleh menyentuh tulang-tulang yang ada, menarik untuk anak-anak dan diberi judul Sentuhlah Aku.
20160616_113917
Al sibuk membaca informasi pada layar sentuh

Informasi-informasi yang disajikan cukup menarik, tetapi rasanya tidak ada cukup waktu untuk membaca semuanya. Pada ruang pamer ketiga antara lain ada video rekonstruksi Homo floresiensis yang dilakukan oleh Elisabeth Daynès dan hasil karyanya.

Setelah selesai menjelajahi museum ini, ternyata Cindy masih juga terjebak di kemacetan. Saya memutuskan untuk ke museum di Klaster Ngebung sambil menunggu mereka. Jaraknya sekitar 3 km dari museum utama di Krikilan ini, jalannya cukup mulus dan sangat sepi. Pada sisi kanan dan kiri yang kelihatan hanyalah perkebunan atau hutan jati. Tiba-tiba muncul gedung megah museum Klaster Ngebung di depan mata kami.

20160616_121956
Tiba-tiba ada gedung museum yang megah seperti ini di tengah hutan dan jalanan yang sepi.
20160616_124108
Panasnya luar biasa!

Wow, kami terheran-heran dan terkejut melihatnya. Masuk museum ini gratis, dan pengunjungnya hanya kami bertiga. Kondisinya sama bagus, bersih, dan terawatnya seperti museum utama di Krikilan. Klaster Ngebung ini berisikan sejarah penggalian karena di desa Ngebung inilah pertama kali dilakukan penggalian sistematis dengan hasil yang luar biasa.

20160616_122634
Masuk museum langsung disambut dengan suasana saat penggalian. Di baliknya terdapat lima layar televisi yang memutarkan film tentang evolusi.
20160616_123227
Ada semacam ruang kelas di sana, dan di mejanya ada ajakan aktivitas seperti ini.

20160616_123931

Setelah selesai menjelajahi museum di Klaster Ngebung ini kami jadi penasaran dengan museum-museum di klaster lainnya. Kami memutuskan untuk ke Klaster Bukuran dan museum pendukung Manyarejo yang berjarak sekitar 4,5 km dari Krikilan. Awalnya kami sempat salah jalan dan hampir saja menyerah. Namun saat mencoba sekali lagi akhirnya berhasil menemukan museum di Klaster Bukuran ini. Untunglah, karena museum ini yang menjadi favorit kami, sangat interaktif, terang, dan menarik! Isinya banyak menjelaskan tentang evolusi manusia. Salah satu favorit kami adalah saat diajak membantu proses kloning pada layar sentuh. Masuk museum di Klaster Bukuran ini gratis, hanya membayar parkir mobil saja dan pengunjungnya bisa dihitung dengan jari. Al paling betah di Klaster Bukuran ini karena museumnya modern dan terang, tidak bernuansa gelap seperti museum-museum sebelumnya.

20160616_133441
Lagi-lagi kami disambut gedung museum megah di tengah hutan yang sepi.
20160616_131240
Begitu masuk langsung disambut layar televisi
20160616_131413
Bagan yang memperlihatkan keanekaragaman hayati

20160616_131448

20160616_132032
Bagian favorit Al: menonton video tentang evolusi
20160616_132432
Penjelasan yang menarik

Saat di Klaster Bukuran ini kami baru sadar kalau belum sempat makan siang dan tidak tahu harus mencari makan di mana. Kepalang tanggung kami melanjutkan perjalanan ke museum pendukung Manyarejo yang berjarak hanya 1 km dari sana. Museum pendukung Manyarejo ini kecil, tidak semegah museum yang lainnya. Museum ini dipersembahkan bagi warga Sangiran dan para peneliti yang pernah datang ke sana, menyajikan kenangan penanda kebersamaan dan kedekatan mereka. Hanya berbentuk seperti rumah penduduk yang kecil dan sederhana. Sebelum masuk museum kita diajak melihat situs penggalian. Masuk museum ini gratis, hanya dikenakan biaya parkir mobil.

20160616_140557
Lokasi penggalian
20160616_140822
Bagian yang menarik untuk Al: diminta menyusun tulang-tulang yang ada sesuai dengan contoh yang diberikan.
20160616_141223
Asyik dengan permainan interaktif mencari fosil.

Kami tidak berlama-lama di museum pendukung Manyarejo ini karena masih ada satu museum lagi yaitu di Klaster Dayu, dan saat itu sudah sekitar pukul 14.30. Museum ini sendiri jaraknya agak jauh, dari Krikilan saja sekitar 11 km. Perjalanan dari Manyarejo ke Klaster Dayu ini sangat menantang, dari jalan mulus, ke jalan berbatu-batu, ke jalan yang hanya dicor samping kiri kanan saja. Mungkin karena kami di luar jalur utama, karena berdasarkan pengalaman jalur utama menuju lima museum ini cukup mulus. Dengan mengandalkan google maps akhirnya sampai juga ke Klaster Dayu. Harap-harap cemas, takut museum sudah tutup karena sudah lewat dari jam tiga. Bahkan sempat berpapasan dengan satpam yang naik motor dari arah museum itu. Untungnya masih sempat masuk ke museum di Klaster Dayu ini. Untuk masuk museum ini, kami harus membayar Rp5.000,- per orang.

Begitu masuk museum ini kami langsung syok melihat banyaknya anak tangga turun ke bawah. Waduh, harus menuruni anak tangga sebegitu banyak, bagaimana naiknya nanti ya…

20160616_152608
Gedung museum tempat pintu masuk adalah yang paling atas bercat kuning.

Museum ini mengajak kita mengenali lapisan-lapisan tanah. Jadi setiap sekitar 20 anak tangga ada anjungan yang menjelaskan kita berada di lapisan tanah apa.

20160616_151134

20160616_151142
Ada permainan interaktif pada setiap anjungan.

20160616_151300

20160616_152420

20160616_152750.jpg
Di bagian paling bawah ada saung-saung untuk duduk-duduk dan tempat bermain yang cukup luas dan terawat.
20160616_152734
Bahagianya yang ketemu mainan.

Saat perjalanan naik kembali ke gedung utama museum, saya sempat menghitung ada sekitar 150 anak tangga yang harus dilalui. Sebetulnya kalau tidak mepet waktu tutup museum, enak sekali duduk-duduk di sini sambil bersantai. Benar saja, saat mobil kami keluar dari museum, gerbang pun langsung ditutup.

Rasanya kalau mau benar-benar menikmati setiap museum, satu hari tidak cukup. Sebaiknya membawa bekal makan siang atau membeli makan siang saat di Krikilan, karena klaster lain sepi tidak ada yang berjualan. Jangan lupa untuk membawa banyak minum karena udara sangat panas dan kering. Pastikan bahan bakar kendaraan cukup karena jalanan yang sepi dan jauh dari mana-mana. Jangan lupa juga baterai ponsel harus dihemat karena kami saat itu benar-benar hanya mengandalkan petunjuk dari google maps.

Petualangan hari ini tidak terduga, siapa sangka ada museum-museum yang begitu bagus dan keren di tengah hutan? Sesampainya di Solo kami sudah tidak sanggup untuk bepergian lagi dan hanya bersantai-santai di Rumah Batu sambil menyambut kunjungan Cindy. Akhirnya ketemu juga ya, setelah berkejaran di hutan dan pegunungan dengan sinyal yang mati nyala.

20160616_205519_LLS

Semoga di lain waktu kami bisa mengulangi kunjungan ke Sangiran ini.

Advertisements

One thought on “Hari Keempat: Sangiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s