Hari Ketiga: Ambarawa

Satu hal yang menjadi misteri, setelah capek bermain-main kemarin malam, kenapa saat liburan begini Al selalu bangun pagi??? Sebelum pukul tujuh dia sudah bangun dan mengajak sarapan. Selesai sarapan kami langsung check out dan melanjutkan perjalanan. Hari ini kami akan menempuh perjalanan ke Solo dan mampir di Ambarawa.

Pertama-tama kami mengunjungi Gua Maria Kerep Ambarawa. Dulu saat sekolah saya pernah live-in di sebuah desa sekitar Ambarawa dan beberapa teman diajak oleh “keluarga” mereka untuk mengunjungi GMKA ini. Saat menyusun rencana perjalanan ini saya langsung memasukkan GMKA sebagai tempat yang wajib dikunjungi.

20160615_104316
Gerbang GMKA

20160615_104444

Kami lupa tidak berfoto-foto di sepanjang jalur jalan salib dan Gua Maria, lalu baru membuat beberapa foto di Taman Doa. Pada bagian ini beberapa cerita dari Alkitab divisualisasikan dengan sangat indah dan jelas.

20160615_111258

20160615_110938

20160615_112008

Cuaca saat kami berkeliling di GMKA ini mendung cukup tebal, terlihat jelas di foto berikut:

20160615_112236

20160615_112510

Setelah berfoto dan melihat-lihat patung Maria Assumpta yang baru diresmikan 15 Agustus 2015 ini, kami kembali ke mobil diiringi dengan hujan gerimis. Perjalanan dilanjutkan ke Museum Kereta Api Ambarawa. Museum ini pernah saya kunjungi pada tahun 2007 dan kondisinya sekarang sudah jauh lebih bagus dan terawat. Sayangnya kami tidak berkunjung pada hari Minggu sehingga tidak bisa ikut naik kereta api wisata mereka. Hmmm, selalu ada alasan untuk kembali lagi ke sini, kan. Tiket masuknya Rp10.000,- untuk dewasa dan Rp5.000,- untuk anak-anak. Jika ingin ikut wisata kereta, tiketnya kalau tidak salah Rp50.000,- per orang.

Sekumpulan lokomotif dan gerbong-gerbong kereta tua yang bebas untuk dieksplorasi tentunya menjadi “surga” buat Al, sehingga kami hanya sempat sedikit berfoto-foto karena sibuk naik turun kereta.

20160615_120005
Sebelum berfoto di Iamsterdam kita berfoto di sini dulu ya…
20160615_120428
Kalau anak ini mau dikirim, harus ditimbang dulu di sini…
20160615_120742
Ini mesin pencetak tiket kereta, digunakan sejak 1840 – 2009. Masih ingat kan tiket kereta dari karton tebal dan ukurannya kecil itu??

20160615_120038

20160615_115749
Rapi, terawat, dan bersih

20160615_120131

20160615_120215

Isi museumnya mirip-mirip dengan di Lawang Sewu, berbagai hal yang berhubungan dengan perkeretaapian. Masuk ke dalam museum ini tidak diizinkan membawa makanan dan minuman, mungkin ini salah satu faktor yang membuat tempat ini sangat terjaga kebersihannya.

Rencananya hari ini akan makan siang di Kampoeng Kopi Banaran, tetapi Cindy memberi ide untuk ke Eling Bening dan memutuskan untuk mencari tempat itu. Sayangnya perut lapar dan lokasi yang agak susah dicari bukanlah kombinasi yang tepat, jadi setelah beberapa kali nyasar kami akhirnya ke Kampoeng Kopi Banaran. Sebenarnya di sini juga bisa naik kereta kalau hari Minggu. Kami hanya makan siang saja dan tidak melihat-lihat tempatnya karena hujan deras.

Perjalanan kami lanjutkan menuju tempat menginap selanjutnya di Solo, yaitu Rumah Batu. Hujan deras yang terus turun sampai malam membuat kami akhirnya makan malam di Paragon Mal karena sekalian harus mencari sandal untuk Al. Saat disuruh memilih, Al langsung menunjuk pempek Ny. Kamto.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s