Proses Belajar Membaca

Salah satu milestone yang baru dilalui Albert adalah bisa membaca. Sebenarnya proses belajar membaca ini bukanlah proses yang dilalui hanya dalam satu atau dua bulan, tiga puluh atau enam puluh jam seperti yang diiklankan buku-buku dan tempat kursus membaca. Proses ini sudah berlangsung sejak Albert masih di dalam kandungan, yaitu dengan membacakan buku-buku untuknya. Bagi saya, membuat anak mencintai buku jauh lebih penting dibandingkan berhasil lancar membaca dalam waktu singkat. Saya ingin berbagi beberapa tips kepada urban mama, tentang proses belajar membaca Albert (dalam hal ini membaca bahasa Indonesia). Tentunya ini tidak bisa langsung diterapkan mentah-mentah kepada setiap anak, karena proses belajar setiap anak itu unik, tidak ada yang sama.

  • Saya mulai dengan membacakan cerita untuk Albert, setiap ada kesempatan dan akhirnya menjadi rutinitas sebelum tidur. Walaupun kelihatannya ia tidak mendengarkan, saya terus konsisten membacakan buku untuknya, sampai akhirnya Albert kecanduan dengan sesi membaca buku bersama ini. Saya dan suami juga berusaha membacakan cerita dengan ekspresi yang hidup, agar bisa menarik perhatiannya.
  • Dari cerita-cerita yang didengarnya itulah Albert mempelajari bahasa Indonesia. Karena balita memang banyak belajar dari mendengar. Selain dari mendengar buku yang dibacakan, ia juga belajar melalui lagu-lagu dan film yang ditontonnya.
  • Biasanya ada satu atau dua buku yang menjadi favoritnya dan anak akan minta dibacakan berkali-kali… mungkin ratusan kali bahkan. Pagi, siang, malam, berhari-hari buku itu terus yang ia minta. Lakukan saja, karena inilah cara anak-anak mengingat cerita, yaitu dengan mendengarkan berulang kali. Jangan kaget kalau setelah dibacakan beberapa kali anak menjadi hafal dengan isi cerita buku, bahkan susunan kata-kata di dalamnya.
  • Salah satu tips dari psikolog play group Albert, mulailah menempelkan nama-nama benda di rumah, misalnya meja, kursi, lemari, televisi, pintu, tangga, dll. Saya ingat kalau saya juga suka memberikan tips ini pada orang yang baru mulai belajar bahasa asing. Saya menggunakan stiker yang ditulis tangan atau stiker huruf-huruf.
  • Di rumah, saya menyediakan papan tulis dan spidol warna-warni, lalu juga huruf-huruf bermagnet untuk bermain-main sambil mengenal huruf. Juga poster huruf A-Z dan stempel huruf.

  • Tips lain dari psikolog sekolah, anak harus sudah lancar dan hafal akan bentuk dan warna, baru bisa lebih mudah belajar membaca. Intinya anak bisa memilah sesuatu dengan baik. Kita bisa juga mengajaknya melakukan aktivitas sorting. Aktivitas ini bisa dicari dengan mudah di internet.
  • Kadang-kadang juga saya mengajak Albert membuat kerajinan tangan yang ada hubungannya dengan huruf, misalnya membuat dinosaurus dari huruf D. Enaknya sekarang kita bisa tinggal googling saja dengan kata kunci “alphabet crafts” dan langsung keluar banyak sekali ide dari situ. Tapi jujur saja saya tidak terlalu telaten dengan rutin memberinya aktivitas semacam ini.

  • Saat Albert sudah mulai lancar berbicara, saya sering memintanya untuk menceritakan kembali isi buku yang baru dibaca. Ternyata ini salah satu aktivitas pre-reading, yaitu anak harus bisa mengurutkan kejadian, bahwa cerita memiliki susunan awal-tengah-akhir.
  • Kadang-kadang saya suka memberinya foto-foto atau buku yang hanya ada gambar, tanpa tulisan apa-apa, membiarkan ia berimajinasi dari gambar-gambar itu. Bisa juga kita menggunakan foto-foto di koran atau majalah.
  • Saya juga sering membiarkan Albert sibuk sendiri dengan buku-buku yang ada, tidak langsung menawari untuk membacakannya.

  • Saya berprinsip tidak mau memaksakan dan memberi target Albert harus bisa membaca pada umur tiga tahun misalnya. Saya hanya yakin, kalau ia sudah siap, pasti nanti ia akan bisa belajar membaca dengan mudah.
  • Kalau ada perpustakaan di dekat rumah, ajak anak untuk sering duduk-duduk di sana. Atau kalau tidak ada perpustakaan, bisa ajak anak ke toko buku. Ajak anak memilih-milih buku dan bacakan beberapa buku di sana. Hal ini bisa dilakukan kalau toko buku sedang tidak terlalu ramai.
  • Sekarang banyak aplikasi mengenal huruf di ponsel atau tablet. Saya menyediakan beberapa aplikasi mengenal huruf dan belajar membaca di ponsel saya.
  • Saya mengunakan buku pandai membaca aiueo sebagai alat bantu belajar membaca. Selain itu saya juga membuat permainan memancing huruf-huruf sebagai awal perkenalannya dengan membaca. Ada juga kartu-kartu yang saya buat per suku kata.

  • Saat Albert sudah memutuskan ia mau belajar membaca, prosesnya bisa dikatakan cukup cepat. Saya juga menyediakan buku-buku yang menarik untuk dibacanya.
  • Saat masih dalam proses belajar, secara tidak sengaja Albert melihat-lihat koleksi komik bukti terbit yang saya miliki. Dan ia mulai dengan melihat-lihat gambar di komik serta membaca seruan-seruan di luar balon percakapan, seperti BRAK, BRUK, HAHAHA, dll. Lama-kelamaan ia seperti tertantang dan mulai membaca tulisan di balon percakapannya, sampai akhirnya benar-benar membaca komik itu dari awal sampai habis. Saya teringat kalau sampai sekarang pun saya senang membaca komik sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kemampuan berbahasa asing saya. Setelah cukup lancar membaca, Albert pun mulai beralih ke buku-buku lain yang tulisannya lebih banyak, seperti Ensiklopedia untuk anak-anak atau buku cerita bergambar seperti Geronimo Stilton.

Semoga tips di atas bisa membantu. Tidak ada salahnya memasukkan anak ke les membaca, karena saya juga sempat terpikirkan untuk melakukannya dan tidak semua orang memang bisa sabar dalam mengajar. Tapi satu hal penting seperti yang diucapkan Charlie kepada Lola dalam salah satu episode film itu, “Membaca sama seperti bermain musik. Kita harus sering latihan agar bisa lancar melakukannya.” Menyediakan buku-buku yang menarik akan membuat anak latihan membaca tanpa diminta. Proses belajar yang menarik juga salah satu kuncinya. Semoga tips ini bisa membantu ya, Urban Mama.

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 7 Maret 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s