Cordoba

Dari Granada ke Cordoba kami menggunakan bus Alsa, harga tiket sekitar €15 dan lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Di dalam bus ada free wifi dan sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan berbukit-bukit dan banyak pohon-pohon zaitun. Perjalanannya berkelok-kelok seperti di Puncak tetapi dengan pohon-pohon zaitun di tepi jalannya.

Sesampainya di Cordoba kami langsung ke stasiun kereta yang letaknya di seberang terminal bus untuk membeli tiket pulang. Agar puas menjelajahi Cordoba, kami memutuskan untuk memilih kereta agak malam dan akan tiba di Sevilla sekitar pukul sembilan malam. Setelah itu kami mencari loker untuk menitipkan barang-barang.

Setelah itu kami langsung berjalan kaki ke arah kota tua Cordoba. Salah satu ciri khas yang kami perhatikan, stasiun atau terminal letaknya agak di pinggir kota, dan ruas jalannya lebar-lebar. Begitu memasuki wilayah kota tua, ruas jalannya langsung menyempit dan terasa seperti berada di dua kota yang berbeda.

Kotanya cantik sekali, awalnya kami mau mencari makan siang terlebih dahulu, baru berkunjung ke Mezquita, Katedral di  Cordoba. Namun saat menyusuri jalan-jalan kecil, tiba-tiba saja kami mendapati Mezquita sudah di depan mata. Rasanya langsung sirna rasa lapar kami dan langsung memutuskan untuk masuk dulu ke dalam bangunan megah ini. Benar-benar megah dan indah sekali.

Setelah selesai mengagumi keindahan Katedral kami berjalan keluar dan mencoba mencari tempat untuk makan. Maklum kami hanya sempat makan croissant dan jus saat sarapan sebelum naik bis. Agak panik juga karena mulai banyak tempat yang tutup untuk siesta. Untungnya ada satu restoran yang buka, dan kami mencoba memesan tapas di sana. Uniknya, restoran ini memajang uang kertas dari berbagai negara di temboknya dan ada uang dari Indonesia. Selesai makan, sebagai tip kami memberikan selembar uang kertas Indonesia yang berbeda dari yang sudah mereka miliki.

Selesai makan, kami kembali berjalan kaki menyusuri kota Cordoba ini. Pada jam tidur siang ini kota terasa lebih sepi, yang ramai hanyalah tempat-tempat wisata. Bagian lain kota terasa amat sepi, lagi pula sinar matahari memang sedang terik-teriknya, sehingga cocok untuk makan es krim. Di Cordoba ini kami sering mendengar orang yang berbicara bahasa Belanda, ternyata memang Spanyol adalah tujuan wisata favorit orang Belanda. Bahkan ada satu hostel yang memasang pengumuman “Wij spreken Nederlands” artinya “Kami bicara bahasa Belanda”.

Kami menutup hari dengan makan rabo de toro, makanan khas Cordoba yang merupakan buntut banteng yang dimasak dengan slow cooker. Enak sekali!

Selesai makan kami menyusuri ruas jalan Cordoba. Terasa sekali jalanan menjadi ramai kembali ketika mulai malam. Banyak orang berolahraga dan anak-anak bermain di lapangan. Kami pun kembali ke stasiun kereta untuk mengambil barang dari loker dan berangkat menuju Sevilla. Di stasiun kereta pemeriksaan penumpang cukup ketat mirip seperti di bandara. Keretanya bagus dan nyaman, padahal kami memilih kelas ekonomi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s