Cordoba

Dari Granada ke Cordoba kami menggunakan bus Alsa, harga tiket sekitar €15 dan lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Di dalam bus ada free wifi dan sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan berbukit-bukit dan banyak pohon-pohon zaitun. Perjalanannya berkelok-kelok seperti di Puncak tetapi dengan pohon-pohon zaitun di tepi jalannya. Continue reading

Sekilas Barcelona

Rencana awal adalah menghabiskan tiga atau empat hari di Barcelona. Jalan-jalan santai, menikmati kota Barcelona yang penuh daya tarik itu. Tapi cerita teman kami tentang Andalusia membuat kami bertiga tergoda untuk pergi ke Spanyol Selatan. Karena tidak bisa memutuskan Barcelona atau Andalusia, kami mengunjungi semuanya. Tapi waktu yang singkat membuat kami hanya bisa melihat Barcelona sekilas saja. Cukup? Pasti belum… apalagi di Barcelona saat itu dingin dan gerimis sepanjang hari sehingga jalan-jalannya jadi kurang puas. Continue reading

Pesona Spanyol

Image

Saat tahu akan dikirim seminar ke Belanda dan Belgia, salah satu melintas di pikiran adalah “mau perpanjang jalan-jalan ke mana ya kali ini”. Bagi kami, ketika sudah mendapatkan tiket pp dan visa schengen gratis, itu harus dimanfaatkan dengan baik, setidaknya menambah satu negara baru untuk dikunjungi.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke Barcelona, karena Yoke bisa berbahasa Spanyol dan punya impian untuk pergi bareng Zahroh ke Spanyol. Kalau saya sih ikut saja karena toh memang belum pernah ke Spanyol. Tadinya mau jalan-jalan santai di Barcelona saja, tidak jalan-jalan ngotot yang mengeksplorasi satu kota dalam sehari seperti saat masih mahasiswa dulu. Tapi ketika mendengar dari teman bahwa Andalusia lebih menarik untuk dikunjungi, kami mulai bingung. Ditambah browsing-browsing yang membuat makin bingung. Yang mana yang harus dipilih ya, apalagi karena waktu hanya ada lima malam. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat semuanya, Barcelona plus kota-kota di Andalusia: Granada, Cordoba, dan Sevilla. Artinya, ini tidak akan menjadi jalan-jalan santai, tapi lebih mirip jalan-jalan saat masih mahasiswa dulu.

Saat menyusun rencana perjalanan pun tak kalah hebohnya. Dari awal kami memutuskan untuk menggunakan budget airlines agar bisa menghemat waktu dan biaya. Akhirnya tiket sudah di tangan: AMS-BCN, BCN-GRX, dan SVQ-AMS. Untuk urusan penginapan, kami mencoba Airbnb untuk di Barcelona dan Granada, serta hostel untuk di Sevilla. Awalnya sempat heboh browsing sana-sini, membuat daftar tempat yang akan dikunjungi. Tapi menjelang keberangkatan, karena berbagai kesibukan akan meninggalkan anak(-anak), rencana perjalanan tidak dibuat secara detail, hanya berbekal membaca-baca blog orang yang sudah pernah ke sana dan membuat list tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Lagi pula karena tidak bawa anak(-anak), jadi merasa mahasiswa lagi. Santai… lihat saja nanti…

Tidak heran banyak orang Belanda yang menjadikan Spanyol tempat wisata favorit mereka. Rasanya lega meninggalkan Amsterdam yang abu-abu, dingin, dan banyak diguyur hujan, lalu disambut cuaca yang cukup cerah di Spanyol. Cukup banyak penerbangan dari Amsterdam ke Spanyol, dengan harga tiket yang tidak terlalu mahal. Kami menghabiskan total sekitar tiga juga rupiah untuk penerbangan AMS-BCN, BCN-GRX dan SVQ-AMS. Saat di Spanyol kami juga banyak mendengar orang-orang yang mengobrol dengan bahasa Belanda. Wah, rasanya seperti masih di Belanda. Umumnya harga makanan dan minuman di Spanyol juga lebih ekonomis ketimbang di Antwerpen dan Amsterdam.

Runaway Mothers in Europe

Runaway Mothers in Europe

Senang rasanya mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Eropa, apalagi kalau teman seperjalanannya mengasyikkan! Pastilah perjalanan jadi tambah seru! Kami bertiga sama-sama ibu-ibu muda, sama-sama harus meninggalkan anak(-anak) kami di Jakarta, dan sama-sama memutuskan untuk berpetualang seminggu lagi setelah dua minggu mengikuti seminar. Salah satu kenalan kami berkomentar, “Bagaimana dengan para suami? Mereka setuju saja kalian pergi begitu lama?” Pertanyaan itu lalu dijawabnya sendiri, “Ah, tapi tampaknya mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula bagus jika seorang ibu punya kesempatan untuk pergi sebentar dari rutinitas mereka, dan kembali untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi.” Rata-rata menanggapi perjalanan kami dengan komentar positif.

Kangen keluarga… pastinya! Untung kemajuan teknologi membuat yang jauh jadi terasa lebih dekat. Dulu saat ditinggal Mama tugas sekolah, rasanya lama sekali menunggu surat-surat datang. Sekarang setiap hari bisa langsung bertukar cerita dengan si kecil.

Ini foto favorit kami. Datang ke Eropa hanya dengan ransel, karena bagasi terlambat. Perjalanan yang menambah pengalaman dan semoga bisa menginspirasi anak(-anak) kami di kemudian hari.