Surat untuk Albert

Bulan September lalu saya harus meninggalkan Albert (5 tahun) selama tiga minggu untuk mengikuti seminar. Saya mendapatkan kabar tentang dinas ini sejak bulan Januari, jadi saya punya cukup banyak waktu untuk memberi pengertian kepada Albert. Ini bukan pertama kalinya saya harus berdinas luar kota, tapi ini adalah yang terlama dan terjauh. Berdasarkan pengalaman saya, kali ini lebih sulit karena Albert sudah mulai mengerti bahwa saya akan pergi lama, jauh, dan ia tidak bisa sering-sering mengobrol dengan saya lewat telepon. Rasanya lebih mudah ketika saya harus meninggalkan Albert di usia tiga tahun ketimbang sekarang karena ia belum banyak protes.

Kebetulan saya mendapatkan ide dari sini untuk meninggalkan satu surat setiap hari selama saya pergi. Setelah dihitung-hitung ternyata saya harus mempersiapkan 23 pucuk surat. Selain menulis surat, saya juga memutuskan untuk memberikan kejutan-kejutan kecil untuk Albert. Jadi ia tidak menerima surat setiap hari, melainkan menerima paket spesial dari Mama.

Apa saja isinya? Saya mengisi amplop dengan hadiah sederhana yang pasti disukainya seperti balon, sticker, kartu aktivitas, majalah, mobil-mobilan, dan juga beberapa film. Saya menyebarkan hadiah itu secara acak, pokoknya satu hari ada satu hadiah. Ada teman saya yang sempat bertanya, “Apa tidak takut kalau nanti Albert jadi malah mengharapkan mamanya pergi lagi karena ingin mendapatkan hadiah?” Ah, dalam hati saya yakin kalau Albert tetap lebih suka Mama ada bersamanya ketimbang amplop-amplop penuh hadiah.

Surat-suratnya saya tulis tangan, dengan pemisahan per suku kata karena Albert sedang belajar membaca. Saya menuliskannya di post-it dan saya tempelkan di amplop. Semua surat saya siapkan secara urut dan saya berikan pada suami yang bertugas menyerahkannya pada Albert. Surat pertama saya berikan tepat sebelum saya berangkat ke bandara.

Setiap hari suami saya memberikan surat kepada Albert, biasanya saat ia pulang sekolah. Menurut suami, Albert tidak pernah absen menanyakan mana paket dari Mama. Ia akan langsung minta bantuan papanya untuk membaca surat itu dan membuka hadiahnya. Suatu hari ia juga sempat menulis surat untuk saya dan menyelipkan sticker sebagai hadiah. Manis sekali! Hal ini terus berlangsung selama tiga minggu. Sebenarnya saya juga rajin mengirimkan kartu pos untuk Albert dari kota-kota yang saya kunjungi. Saya pikir pasti Albert akan senang melihat kartu pos datang. Tapi sayang sekali kartu-kartu pos yang saya kirimkan baru tiba seminggu setelah saya pulang.

Saat saya pulang, Albert menyambut dengan gembira. Ia berterima kasih atas surat-surat dan hadiah-hadiah yang saya berikan selama saya pergi. Ketika saya tanya, “Mama boleh pergi lagi? Asyik kan Albert setiap hari jadi dapat hadiah?” Ia menjawab, “Tiga minggu terlalu lama, Mama. Aku lebih suka bisa di dekat Mama daripada dapat surat dan hadiah.” Fiuuuuh leganya…

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 14 Oktober 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s