Ke Dokter Gigi

Sekitar setahun lalu Albert sudah sempat saya bawa ke dokter gigi untuk sekadar perkenalan dan periksa kondisi giginya. Ternyata kondisi giginya cukup bagus dan tampaknya Albert cukup senang mendapatkan balon dari sarung tangan dan hadiah mobil-mobilan setelah selesai periksa. Dokternya berpesan agar periksa kembali setidaknya setelah setahun.

Akhir-akhir ini saya melihat seperti mulai ada karies di gigi depan Albert, lagi pula sudah hampir setahun dari kunjungannya ke dokter gigi. Saat waktunya pas, saya mengajak Albert berkunjung ke dokter gigi lagi. Setahun berlalu membuat Albert sedikit takut, sehingga dia tidak mau duduk sendiri. Albert memilih dipangku Mama selama diperiksa dan saat mau pulang dia mendapatkan hadiah gantungan kunci. Rupanya Albert masih teringat dengan balon dari sarung tangan, sehingga dia memintanya. Ternyata kekhawatiran saya terbukti, ada satu lubang di geraham kiri dan gigi depan. Tapi karena Albert masih takut-takut, Dokter meminta agar kami kembali minggu depan untuk menambal lubang yang ada. Waktu seminggu harus digunakan untuk memotivasi Albert agar mau duduk sendiri dan membuka mulut sampai hitungan ke sepuluh.

Selama seminggu saya sibuk bercerita tentang kuman-kuman yang ada di gigi Albert, mengatakan bahwa kami akan kembali ke dokter gigi lagi untuk mengusir kuman-kuman jahat itu, serta menutup rumah si kuman. Kalau anak sudah besar seperti Albert seharusnya duduk sendiri, tidak dipangku, dan mau membuka mulut sampai hitungan ke sepuluh.

Saya agak deg-degan juga bagaimana proses menambal gigi nanti, karena pasti melibatkan bor dan Albert harus membuka mulut cukup lama. Apalagi kalau duduk sendiri, siapa yang akan memegangi tangannya. Ternyata semua berjalan dengan cukup lancar. Albert yang dari rumah memang sudah bilang akan duduk sendiri, tidak dipangku Mama, bisa menepati janjinya. Dia duduk sendiri lengkap dengan kacamata hitam dari Dokter agar tidak silau dan tidak kena cipratan air. Sementara Albert ditambal giginya, saya menceritakan apa yang sedang dilakukan Tante Dokter. “Sekarang kuman jahatnya mau diusir dulu dengan semprotan air, Albert jangan kaget ya…” “Buka mulutnya lebar-lebar, Tante Dokter mau menembaki si kuman jahat…” Tante Dokter pun menambahkan sebelum mengebor, “Sekarang kumannya mau dikasih getaran hebat biar pada lari.” “Habis ini bekas rumah si kuman jahat akan ditutup dengan semen, biar dia tidak bisa kembali lagi.”

Akhirnya proses menambal gigi geraham kiri berhasil diselesaikan dengan lancar. Beberapa kali terhenti karena Albert mau berkumur, atau mau mencoba mematikan/menyalakan lampu, atau bertanya ini-itu. Untung Tante Dokter dan Tante Perawat cukup sabar melayani permintaan Albert. Saat selesai, Albert langsung bersemangat pilih-pilih hadiah dari laci Tante Dokter. Kali ini dia lupa tidak meminta balon sarung tangan lagi.

Masih ada satu gigi yang harus ditambal, sehingga kami harus kembali minggu depan. Semoga prosesnya juga lancar. Menurut Tante Dokter, anak-anak akan menjadi bete kalau proses berlangsung terlalu lama, jadi tidak bisa menambal dua gigi sekaligus. Kalau dia sudah kesal, maka kesan yang terekam dari kunjungan ke dokter gigi adalah kesan yang buruk, bukan yang menyenangkan. Hal itu akan membuat kunjungan ke dokter gigi berikutnya akan sulit.

Beberapa tips untuk mengenalkan kunjungan ke dokter gigi pada anak-anak:

  • Karena Albert suka dibacakan buku, saya membeli beberapa buku dengan tema kunjungan ke dokter gigi. Setidaknya dari cerita dan gambar, Albert tahu bahwa di dokter gigi dia akan duduk di kursi khusus, pentingnya menjaga kesehatan gigi, pentingnya menggosok gigi, dll. Selain itu saya juga kerap bercerita pada Albert bahwa kuman jahat di gigi itu suka sekali makan gula, jadi dia harus minum banyak setelah makan yang manis-manis.
  • Kenalkan anak-anak pada dokter gigi sejak dini. Menurut kenalan saya yang dokter gigi anak, sejak gigi susu anak tumbuh, dia perlu dibawa ke dokter gigi. Kesehatan gigi susu akan mempengaruhi pertumbuhan gigi tetapnya.
  • Dokter gigi saya menyarankan agar anak diajak saat orang tua ke dokter gigi. Dengan begitu anak akan melihat proses kerja dokter gigi, dan orang tua memberi contoh bahwa kita tidak perlu takut pergi ke dokter gigi.
  • Biasanya dokter gigi anak memiliki berbagai pendekatan untuk menarik perhatian anak. Ikuti alur cerita yang disampaikan dokter, lalu kita kembangkan sendiri di rumah.
  • Selain hadiah yang didapat dari dokter gigi, saya juga menjanjikan hadiah spesial untuk Albert kalau dia mau bekerja sama dengan baik saat giginya ditambal.

Semoga kunjungan berikutnya ke dokter gigi bisa berjalan dengan cukup lancar.

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 23 September 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s