Terima Kasih, Guruku

Ternyata sudah genap setahun Albert bersekolah di Play Group. Akhir tahun pelajaran pun tiba, selain acara perpisahan, biasanya orangtua murid suka memberikan kenang-kenangan kepada guru yang telah membimbing anak-anak mereka. Tidak wajib memang, sekadar sebagai tanda terima kasih. Selain kado yang sudah saya beli, tiba-tiba saya mendapatkan ide untuk mengajak Albert membuat sendiri kenang-kenangan untuk dua gurunya.

Ide ini baru saya dapatkan seminggu sebelumnya ketika berkunjung ke toko pernak-pernik prakarya. Saya ingin mengajak Albert membuat kalung sederhana untuk gurunya. Kalau tidak dipakai oleh gurunya, mungkin bisa dipakai oleh putri-putri mereka. Kebetulan memang dua guru Albert mempunyai anak perempuan yang masih balita. Albert bersemangat sekali saat saya ajak membuat kalung. Dia sendiri yang memilihkan warna bunga-bunga di kalung.

Selain itu saya juga mengajak Albert menghias kertas pembungkus kado untuk gurunya. Saya membeli kertas berukuran besar dan mengajak Albert berkreasi dengan cat. Awalnya kami menggunakan mobil-mobilan Albert yang roda-rodanya dicelup ke dalam cat poster, lalu dijalankan di atas kertas. Tapi lama-kelamaan Albert juga membuat cap tangannya di atas kertas, menciprat-cipratkan cat menggunakan sikat gigi dan sisir bekas, sehingga hasilnya sangat abstrak.

Saya lalu melengkapinya dengan mencari-cari free printables untuk dibuat sebagai kartu ucapan. Saya memilih kartu bertuliskan “It takes a big heart to help shape little minds” dan “Thank you for helping me bloom and grow this year”, lalu menge-printnya. Setelah saya tuliskan ucapan terima kasih, lalu saya melaminating kartu-kartu itu, agar bisa disimpan atau dijadikan pembatas buku oleh guru-guru Albert. Sebenarnya saya juga berencana melengkapi dengan sekotak cookies buatan saya dan Albert, tapi karena waktunya mepet, saya tidak berhasil mewujudkannya.

Albert tampak bangga sekali saat menyerahkan kenang-kenangan untuk gurunya. Dia bercerita kalau dia membuat kalung itu bersama saya. Cap tangan di kertas kado itu adalah tangannya. Saya berharap kedua guru Albert senang menerima hadiah yang dibuat sepenuh hati ini dan semoga pengalaman ini membekas pada diri Albert. Tidak harus selalu memberikan sesuatu yang mahal, kadang orang akan lebih menghargai kenangan yang dibuat sendiri…

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 22 Juni 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s