Memilih Buku untuk Anak

Bagaimana sih cara memilih buku yang cocok untuk anak? Anak-anak sebaiknya pertama kali diperkenalkan pada buku yang seperti apa, ya? Ah, anak saya masih kecil, belum bisa membaca, untuk apa dibelikan banyak buku?

Jujur saja, waktu tahu hamil, saya memang membelikan beberapa buku untuk Albert dan mulai membacakan buku sejak hamil. Dua buku pertama yang saya belikan untuk Albert adalah soft book dan bath book…. Mengapa saya belikan dua buku itu, dulu sih alasannya karena dua buku itu yang sering ada di toko perlengkapan bayi.

Tapi ternyata saat Albert sudah lahir, buku-buku itulah yang memang cukup aman untuk dipegang-pegang, atau dimainkan oleh bayi di bawah usia 6 bulan. Saya kemudian juga membelikan dua boardbook tentang binatang dengan warna-warni yang cerah. Ini menjadi buku favorit Albert, dan dengan segera soft book serta buku mandi itu terlupakan.

Beberapa teman yang saya beri kado buku untuk anaknya suka bilang, yah buku ini paling nanti jadi sasaran dirobek-robek atau digigit-gigit oleh anaknya. Albert juga suka merobek-robek kertas, jadi kalau dia sedang tertarik untuk merobek-robek, saya kasih saja koran atau majalah bekas. Mungkin karena sudah diperkenalkan dengan buku sejak usia dini, Albert mengerti bahwa buku itu untuk dibaca bersenang-senang bersama Mama, bukan untuk dirobek-robek.

Berikut ini saya ingin berbagi beberapa tip berkaitan dengan memilih buku untuk anak-anak:

  • Untuk bulan-bulan pertama, menurut penelitian, bayi suka pada buku-buku dengan warna-warni yang kontras, bahkan sekontras hitam dan putih. Contohnya:

Jujur saja, dulu saya tidak tahu tentang hal ini. Saya hanya memilihkan buku-buku dengan warna-warni solid yang cerah.

  • Setelah itu, bayi akan suka pada buku tentang binatang, buku-buku semacam ini memang menarik untuk dibacakan, karena kita bisa menirukan suara berbagai macam binatang, kegiatan membaca buku pun jadi menyenangkan. Kita pun bisa berimprovisasi dengan cerita yang ada di dalam buku itu. Selain itu, bayi juga suka melihat wajah orang lain… kita bisa mencetak beberapa foto anggota keluarga dan ditunjukkan kepada bayi, atau menunjukkan beberapa foto dari majalah.

  • Setelah bayi bisa duduk, kita bisa mengenalkan bayi pada touch and feel books. Bayi bisa merasakan tekstur yang ada. Buku yang mengeluarkan bunyi-bunyian tertentu juga bisa menarik perhatiannya. Buku berukuran sekitar 10 x 10 cm sangat pas untuk digenggam oleh bayi. Lebih baik tidak memberikan buku yang berukuran terlalu besar atau terlalu berat karena koordinasi tangannya belum sempurna. Kasihan kalau si bayi tertimpa buku. Kita bisa mulai membacakan buku-buku tipis, dengan kalimat yang pendek-pendek dan sederhana. Posisi anak biasanya sambil duduk di pangkuan kita.

  • Di atas usia satu tahun, biasanya anak sedang senang bereksplorasi. Kita bisa memilihkan buku-buku berjendela atau buku-buku dengan aktivitas sederhana. Anak-anak juga mulai bisa mengenali karakter-karakter yang pernah ia lihat di televisi dengan yang ada di buku mereka. Saya juga memberikan Albert beberapa buku yang isinya hanya foto-foto benda di sekitar kita. Ternyata dia sangat menyukainya karena bisa melatih kemampuan asosiasinya. Ada juga buku yang isinya foto-foto ekspresi anak-anak. Kita bisa menjelaskan apa arti ekspresi tersebut, dan meminta anak menirukannya. Seringnya pada usia segini anak tampak tidak menyimak atau tidak tertarik pada apa yang kita bacakan, tapi terus saja bacakan, karena mereka sebenarnya tetap mendengarkan.
  • Di atas dua tahun, pilihan buku menjadi makin beragam. Kadang kita bisa terkaget-kaget dengan kemampuan berbahasanya, karena Albert beberapa kali menggunakan kata-kata yang dia ambil dari buku, seperti “terbang ke angkasa”, “menyelam ke dasar lautan”, “mengetuk pintu rumah”, dan sebagainya. Kita juga bisa membacakan ensiklopedia sederhana tentang alat transportasi, tempat-tempat seperti bandara, tentang tubuh manusia, dan sebagainya. Rentang perhatian anak bertambah panjang, bahkan bisa tetap duduk tenang mendengarkan cerita dari buku sekitar 20-40 halaman. Kadang anak minta orangtua untuk membacakan buku favoritnya berulang kali, ikuti saja, karena anak sedang memperdalam pemahamannya terhadap buku itu.
  • Dari buku-buku yang ada itulah anak diharapkan akan tertarik pada huruf, dan kemudian belajar membaca. Dari buku-buku yang ada itu jugalah anak diharapkan akan merasakan pengalaman membaca untuk pertama kalinya.
  • Walaupun anak sudah bisa membaca sendiri, sesi membacakan buku untuk anak-anak tetaplah penting. Jangan sampai akhirnya anak malas membaca buku karena harus selalu membaca sendiri. Pasti mereka akan kehilangan saat-saat kebersamaan saat dibacakan buku.
  • Sesekali ajak anak memilih bukunya sendiri di toko buku. Selain itu, ajak juga anak untuk memilih buku yang akan dibaca bersama-sama.
  • Usahakan selalu membaca terlebih dahulu buku yang akan diberikan pada anak. Agar kita bisa “menyensor” apabila ada bagian yang mungkin kurang cocok atau kata-kata yang kurang sesuai.

Jujur saja, sering saya merasa malas membacakan buku untuk Albert. Tak jarang saya ketiduran saat membacakan buku, atau mendapati Albert mengomel karena saya salah-salah ketika membacakan buku. Tapi semua terbayar saat melihat Albert sangat akrab dengan buku… semoga bisa seterusnya seperti itu…

Selamat berbelanja buku…

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 30 April 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s