Puting yang Lecet

Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh ibu menyusui adalah puting yang lecet. Ada yang bilang hal itu biasa terjadi, salah satu “bumbu” menyusui, tapi cerita mengenai puting yang lecet atau bahkan sampai luka jarang saya dengar. Padahal hal ini sempat membuat saya frustrasi menyusui dan membuat suami saya bingung. Anak saya menangis karena haus, sementara proses menyusui menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Jujur saja, dua bulan pertama saya sangat tidak menikmati proses menyusui dan hal ini membuat saya sangat stres. Ditambah lagi, luka pada puting membuat payudara saya bengkak dan bisa dibilang, saya secara teratur (sekitar tiga hari sekali) mengalami demam hebat sampai menggigil. Saat ke dokter dan mengonsultasikan masalah saya, dokter hanya menjawab, “Oh, itu biasa terjadi, tidak apa-apa. Oleskan saja dengan salep yang saya resepkan.”

Tidak puas dengan jawaban dokter, saya bertanya pada teman saya yang sudah punya dua anak, dan saya tahu ia menyusui, jawabannya hampir sama, memang saat menyusui akan terjadi lecet dan proses menyusui itu menyakitkan. Rasanya saya sulit percaya bahwa semua orang merasakan penderitaan yang saya alami saat menyusui. Sepertinya kalau saya melihat ibu-ibu yang menyusui bayi mereka, tidak ada proses berkeringat dingin, panas dingin, dan mengalami luka seperti yang saya alami. Dari hasil googling, banyak yang mengatakan bahwa luka pada puting bisa sembuh jika diolesi ASI dan dibiarkan kering. Namun bukankah bayi saya harus tetap menyusu, dan bagaimana luka saya bisa kering jika bayi saya harus terus menyusu. Saya benar-benar stres waktu itu. Sayangnya saat itu belum ada theurbanmama.

Ada yang bilang, mungkin posisi menyusuinya salah, duh, saya tidak habis pikir, sebenarnya bagaimana posisi menyusui yang benar. Saat hamil saya memang sempat ke sentra laktasi dan diajari tentang posisi menyusui, tapi belajar menyusui pakai boneka sangatlah berbeda dengan kenyataan saat menyusui bayi yang haus, karena boneka tidak bisa berontak. Waktu di rumah sakit juga hampir tidak ada bimbingan saat menyusui. Albert diantar pada saya, dan suster berpesan agar saya belajar menyusui, hanya itu.

Puting yang lecet juga membuat ASI saya sulit keluar, diperah pakai tangan keluarnya sedikit… hasil perah setengah jam sampai berkeringat hanya cukup untuk membasahi pantat botol. Kata orang pakai pompa lebih enak, mudah, dan cepat. Kebetulan ada teman yang meminjamkan pompa medelanya yang sudah tidak terpakai. Memompa ASI dengan kondisi puting yang lecet, rasanya kog lebih menyiksa ketimbang menyusui langsung.

Akhirnya saya menyerah, apalagi sempat melihat gumoh Albert yang bercampur darah. Stres berat dan sempat berpikir bahwa saya bukan ibu yang baik, bahkan menyusui pun saya tidak bisa melakukannya dengan benar. Saya lalu memutuskan untuk pergi ke sentra laktasi, walau jauh dari rumah, dan pasti harus menghadapi kemacetan. Ternyata saat di sana memang posisi menyusui saya kurang tepat dan wow, seminggu setelah posisi menyusui saya diperbaiki, semua lecet dan luka sembuh, Albert jadi lebih tenang karena lebih kenyang, dan saya mulai menikmati saat-saat menyusui.

Beberapa tip agar para ibu tidak perlu mengalami hal yang sama dengan saya:

  • Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, mulailah mengolesi puting dengan nipple cream atau baby oil atau bisa juga dengan minyak kelapa (VCO) agar kulit di bagian puting menjadi lebih lentur dan tidak terlalu kering. Saya sempat meninggalkan Albert selama seminggu saat dia berusia 8 bulan. Saat berhenti menyusui itu, saya tidak mengolesi puting dengan salah satu produk di atas. Akibatnya saat saya pulang dan Albert kembali menyusu, sempat terjadi “retakan” pada puting, tapi karena saat itu posisi menyusui saya sudah tepat, rasa tidak nyaman ini hanya terjadi beberapa hari saja.
  • Jika memang terjadi lecet atau luka pada puting, segera evaluasi posisi menyusui. Mungkin bisa pergi ke sentra laktasi, atau sekarang juga ada konselor menyusui yang bisa diminta datang ke rumah. Mintalah bantuan sesegera mungkin, jangan dibiarkan berlarut-larut seperti yang saya alami.
  • Jika memungkinkan, istirahatkan puting yang lecet, jangan dipakai untuk menyusui dulu. Tapi ingat, ASI harus tetap dipompa agar tidak membuat payudara bengkak dan menimbulkan masalah baru.
  • Usahakan agar tidak stres (jujur, ini satu hal yang paling sulit), karena stres bisa mengurangi produksi ASI.

So, urban Mama, happy breastfeeding! Saat menyusui seharusnya menjadi saat terindah antara ibu dan anak, jika hal ini tidak terjadi, mungkin ada masalah yang harus diatasi terlebih dahulu.

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 3 Agustus 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s