Perpisahan yang Manis

Akhir-akhir ini, lagu di bawah ini menjadi pengiring menjelang Albert tidur. Dengan lampu remang-remang, biasanya Albert minta boboan di dada dan saya menyanyikan lagu tersebut. Setelah lagu habis, Albert akan bergulir ke tempat tidur dan mulai berusaha untuk tidur. Romantis ya. 🙂

Ambilkan bulan, Bu…
Ambilkan bulan, Bu…
Yang slalu bersinar di langit…
Di langit bulan benderang…
Cahyanya sampai ke bintang…
Ambilkan bulan, Bu…
Untuk menerangi
Tidurku yang lelap
Di malam gelap….

Jujur saja, saya tidak terlalu menantikan saat-saat saya harus menyapih Albert. Rasanya berat sekali harus mengakhiri masa-masa indah menyusui. Saya masih terus menyusui Albert setelah ulang tahunnya yang ke-2. Tapi pada suatu titik, saya merasa, oke, sudah saatnya Albert untuk mulai disapih, dan entah apa pemicunya, mungkin inilah tandanya saya sudah siap untuk menyapihnya.

Menjelang Albert berusia dua tahun, saya sudah bolak-balik membaca-baca thread ini. Lalu saya juga membaca sharing para mama tentang proses menyapih. Saya benar-benar deg-degan dan tidak punya bayangan akan seperti apa penutup dari masa menyusui selama lebih dari dua tahun ini. Apakah akan terjadi drama atau lancar-lancar saja. Sepertinya dibutuhkan keberanian lebih untuk bisa memulai proses weaning with love ini. Selama ini saya selalu menidurkan Albert dengan menyusuinya, jadi saya juga tidak punya gambaran dengan cara apa saya bisa membuatnya tidur selain menyusui.

Berkat thread ini, saya tahu bahwa sebenarnya kalau anak bangun di tengah malam sebaiknya tidak langsung disodori susu. Apa daya, selama hampir dua tahun itulah yang saya lakukan, karena saya harus bekerja di pagi hari, jadi saya tidak mau repot terbangun di malam hari, menenangkan Albert, padahal masalah bisa langsung selesai begitu saya sodori susu. Saya berdiskusi dengan suami saya dan kami sepakat ingin kembali tidur pulas sepanjang malam. Jadi kami mencoba untuk tidak memberikan susu mama jika Albert terbangun di malam hari. Perjanjiannya, kalau Albert terbangun di malam hari, suami saya yang akan menanganinya, sementara saya boleh pura-pura tidur (Yes! Pembagian tugas yang oke, kan?!) Tiga hari pertama agak berat menurut saya. Setiap kali Albert terbangun, suami saya langsung bertanya Albert mau apa, dan menyodorkan air putih kalau Albert minta susu mama. Kadang Albert menangis, tapi toh lama-kelamaan tertidur juga. Pada hari keempat ternyata Albert bisa tidur sepanjang malam, tanpa minta susu mama dan tanpa minta ke kamar mandi. Setelah lebih dari dua tahun, akhirnya saya dan suami bisa kembali tidur pulas sepanjang malam.

Setelah berhasil menghentikan kebiasaan bangun di tengah malam dan minum susu mama, Albert hanya menyusu menjelang tidur. Kami mencoba menawarkannya susu kotak menjelang tidur. Kami berulang kali mengucapkan mantra “Albert sudah besar, kalau sudah besar minumnya susu kotak.” Beberapa hari pertama, cara ini berhasil, dengan catatan, kalau suami saya ada di rumah menjelang jam tidur Albert. Kalau suami saya pulang malam, Albert berkilah, “Kalau ada Papa, Albert minum susu kotak. Sekarang kan tidak ada Papa.” Setelah beberapa hari sukses tidak menyusu, tiba-tiba pada hari Sabtu tanggal 8 Januari 2011, Albert berulang kali mengajak saya ke kamar dan minta minum susu mama. Hal itu terjadi sepanjang hari. Saya sempat berpikir bahwa proses penyapihan itu gagal karena Albert jadi makin sering menyusu. Tapi ajaib, karena beberapa hari setelah itu suami saya selalu ada di rumah saat menjelang Albert tidur, jadi dia tidak menyusu. Setiap ditawari susu mama juga dia menolak, “Tidak, Mama, Albert sudah besar, sekarang Albert minumnya susu kotak.” Bahkan saat kebetulan suami saya pulang malam, Albert tetap menolak susu mama, juga saat demam karena teething, saya sempat menawarkan susu mama, tapi ditolak mentah-mentah walau kondisinya lemas. Wow, ini artinya Albert sudah sukses disapih. Ternyata seharian menyusu berkali-kali pada tanggal 8 Januari 2011 itu merupakan perpisahan yang manis.

Ah, sekarang memang Albert sudah besar. Ritual menyusu sebelum tidur secara otomatis langsung tergantikan dengan membaca buku bersama. Kalau belum begitu mengantuk, Albert bisa minta dibacakan banyak sekali buku. Kadang kalau kangen dengan susu mama, Albert minta ditidurkan di dada saya, sambil dinyanyikan lagu Ambilkan Bulan, Bu. Kadang kalau terpaksa saya harus pulang malam, Albert membaca buku bersama papanya atau minta diputarkan musik. Ternyata dua tahun itu berlalu sangat cepat.

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 28 Juli 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s