Manajemen ASIP bagi Ibu Bekerja

Kalau ada yang bertanya, kapan harus mulai mengumpulkan ASIP sebagai stok saat kembali bekerja, jawaban yang paling tepat menurut saya adalah sedini mungkin. Apalagi pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan karena saat itu produksi ASI sedang menyesuaikan dengan permintaan bayi dan saya merasa saat itu ASI saya sering menetes-netes. Setelah lewat bulan pertama, saat tubuh sudah bisa membaca kebutuhan ASI bayi, saya hampir tidak pernah merasakan payudara yang kencang dan menetes-netes karena penuh ASI.

blue ice dan cooler bag botol2 yang siap diisi

Kalau ada yang bilang, “Enak ya, bisa kasih ASI eksklusif, pasti ASI-nya banyak dan berlimpah-limpah.” Sebenarnya yang saya alami tidak seperti itu. Setiap memerah, saya paling banyak menghasilkan 100 ml, jarang lebih dari itu. Karena itu, saya sadar betul, saya harus mengatur persediaan ASIP saya agar tidak perlu kejar tayang.

Berikut ada beberapa tip yang bisa saya bagi berkaitan dengan manajemen ASIP:

  • Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pemberian ASIP dan prosedur penyimpanan ASIP. Saya juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke sentra laktasi saat hamil 37 minggu dan saat itu saya mempelajari proses memijat payudara untuk melancarkan ASI, serta cara-cara memerah ASI dengan tangan.
  • Menyediakan botol-botol untuk menyimpan ASIP (waktu itu saya pakai botol kaca), serta cooler bag dan blue ice untuk membawa pulang ASIP dari kantor ke rumah. Tidak lupa kantong plastik (setiap botol saya masukkan ke dalam kantong plastik) dan spidol kecil permanen untuk menuliskan tanggal dan jam memerah ASI.
  • Sepulang dari rumah sakit, mulai coba menampung setiap tetes ASI yang keluar, mencoba untuk mensyukuri sesedikit apa pun ASIP yang didapat. Saya berprinsip, yang sedikit-sedikit itu, jika dikumpulkan akan menjadi satu botol juga.
  • Meminta suami untuk melatih bayi minum ASIP, bisa dengan sendok atau cangkir.
  • Mencoba berbagai cara yang cocok untuk memerah ASI, bisa dengan tangan atau dengan breastpump. Kebetulan saya bisa memerah dengan tangan, sehingga tidak repot-repot harus membawa breastpump ke kantor.
  • Merencanakan waktu memerah di kantor. Kebetulan saya punya waktu cukup bebas untuk memerah. Saat baru masuk kantor saya memerah 4-5 kali sehari, yaitu sekitar pukul 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00 (tergantung keadaan juga, kadang ada sesi yang terlewatkan). Jangan menunggu sampai payudara terasa kencang baru memerah. Sekali lagi, sesedikit apa pun hasil yang saya dapatkan, saya tetap bersyukur. Hari-hari pertama masuk kerja, hasil saya setiap sesi memerah hanya sekitar 40-60 ml, tapi hasil ini bertambah secara bertahap, sampai saya berhasil mendapatkan sekitar 100 ml setiap sesi perah.
  • Saat menyusui bayi di rumah, sebisa mungkin menampung ASI yang menetes-netes di payudara sebelahnya. Biasanya sesampai di rumah saya menyempatkan diri untuk memerah sekali lagi sebelum menyusui (sekitar pk. 18.00).
  • Bayi saya minum sekitar 6-10 botol ASIP saat saya tinggal, itu artinya ASIP yang saya hasilkan dalam sehari masih kurang dan saya berusaha menutupi kekurangan itu dengan memerah di malam hari dan pagi hari sebelum berangkat bekerja.
  • Saat weekend, saya juga tetap menyempatkan diri untuk memerah, setidaknya satu atau dua botol sehari. Hal ini tidak mudah karena bayi cenderung ingin menyusu terus saat saya di rumah.
  • Jangan pernah terlena dengan banyaknya persediaan ASIP di kulkas atau freezer. Saat baru masuk kerja, saya punya sekitar 20 botol ASIP. Tapi saya sempat santai di awal-awal masuk kerja, saya mengira dengan memerah di kantor sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi saya. Hal ini sempat membuat persediaan ASIP menipis, hanya tinggal 4 botol. Untunglah saat itu akhir tahun dan saya bisa cuti panjang, sehingga persediaan ASIP terkumpul kembali. Selain itu, kita juga tidak bisa menebak kalau sewaktu-waktu sakit, atau harus lembur, atau tiba-tiba harus tugas keluar kota.
  • Setiap malam atau pagi sebelum berangkat kerja, cek persediaan ASIP, kombinasikan antara ASIP hasil perahan kemarin dengan ASIP yang sudah sempat dibekukan di freezer, misalnya dalam sehari bayi minum 4 botol ASIP kemarin dan 4 botol ASIP yang sudah sempat dibekukan.
  • Bawa botol lebih dari yang diperlukan dalam sehari karena bisa saja ada kejadian yang tak terduga, seperti harus lembur, tidak sengaja menjatuhkan tutup botol, dan sebagainya.
  • Setelah bayi berusia 6 bulan, ia memang sudah mulai makan, tapi ASI tetap yang utama, malahan saya merasa konsumsi ASI-nya bertambah banyak. Jadi frekuensi memerah tetap harus dijaga. Menurut saya, kita baru bisa agak santai setelah bayi berusia setahun.
asi cukup, dia tersenyum lebar

Hal penting yang tidak boleh dilupakan: Kita harus yakin bahwa ASI kita cukup untuk bayi kita. Dengan keyakinan itulah saya berhasil melampaui berbagai tantangan dan hambatan dalam pemberian ASI eksklusif untuk bayi saya.

Artikel ini sudah pernah tayang di The Urban Mama, tanggal 1 Juni 2010.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s